Langsung ke konten utama

Penyair Belum Pulang

 



Penyair Belum Pulang


Nyiur pantai yang meliuk kesana-kemari

Sorot senja yang menatap lebam sejak tadi

Ombak tenang, Laut biru sepanjang garis pantai

Kawah megah bukit Rinjani

Oh Rinjani? Penyair itu tersenyum kecil

Kabut dingin yang membentang di sepanjang perjalanan

Meriuhkan tulang-tulang yang kedinginan

Meriuhkan haru yang berantakan

Tak ada selimut atau jas hujan

Tak ada tawa anak-anak yang bermain di sepanjang garis pantai

Meringkuk bersama keresahan yang berlalu lalang

Mengeratkan segala yang mengental



Dalam lubuk hati. Ada kesunyian yang menjalar

Seperti ubi-ubian di pekarangan rumah

Tumbuh mesra bersama kata-kata

Yang matang di antara bait-bait kehancuran

Menegakkan kembali pilu

Semerbak wangi haru yang mengilu

Pada wajah kebimbangan yang mesra

Pada wajah kelebaman yang tertera

Mencium pucuk-pucuk kesenyapan

Membiarkan angin pantai meniupkan inersia yang melekat

Dalam garis matanya yang sayup merekah



Dan gugusan gunung yang menjulang

Ada kemegahan yang melingkar

Keharuan yang membentang

Laut yang tenang, begitu dalam

Dan penyair berdiri disana

Dengan kapalnya seorang diri

Masih betah menyendiri

Dan belum pulang kerumahnya sedari tadi.


picture by : Google

Komentar